Arti Bojo Dalam Bahasa Jawa

Made Santika March 8, 2024

Dalam khazanah bahasa Jawa, “bojo” bukanlah sekadar kata yang merujuk pada pasangan hidup. Istilah ini sarat akan makna filosofis dan sosial yang membentuk ikatan mendalam dalam masyarakat Jawa.

Secara harfiah, “bojo” berarti “bersatu” atau “menyatukan”. Konteks ini mencerminkan konsep persatuan yang sakral dalam pernikahan, di mana dua individu bersatu menjadi satu kesatuan yang utuh.

Pengertian “Bojo” dalam Bahasa Jawa

Dalam bahasa Jawa, “bojo” memiliki makna harfiah “pasangan hidup” atau “suami atau istri”. Secara kontekstual, istilah ini mengacu pada ikatan perkawinan antara seorang pria dan wanita yang telah diakui secara hukum dan sosial.

Berikut beberapa contoh penggunaan “bojo” dalam kalimat:

  • Aku arep nggolek bojo sing apik lan setya. (Aku ingin mencari pasangan hidup yang baik dan setia.)
  • Bojoku lagi masak di dapur. (Istriku sedang memasak di dapur.)

Jenis-Jenis “Bojo”

Dalam budaya Jawa, terdapat beberapa jenis “bojo” yang memiliki peran dan tanggung jawab berbeda.

Istri

Istri adalah pasangan perempuan dalam pernikahan. Ia memiliki tanggung jawab utama mengurus rumah tangga, termasuk memasak, membersihkan, dan merawat anak-anak. Istri juga berperan sebagai penjaga keuangan dan pengelola rumah tangga.

Suami

Suami adalah pasangan laki-laki dalam pernikahan. Ia memiliki tanggung jawab utama untuk mencari nafkah dan menafkahi keluarga. Suami juga bertanggung jawab melindungi dan menjaga keluarganya.

Pasangan Hidup

Selain istri dan suami, dalam budaya Jawa juga dikenal istilah “pasangan hidup”. Pasangan hidup adalah pasangan yang tidak terikat oleh pernikahan, namun memiliki hubungan yang setara dengan pasangan yang menikah. Pasangan hidup memiliki peran dan tanggung jawab yang sama seperti istri dan suami.

Penggunaan “Bojo” dalam Peribahasa Jawa

arti bojo dalam bahasa jawa

Kata “bojo” dalam bahasa Jawa tidak hanya merujuk pada pasangan hidup, tetapi juga memiliki makna yang lebih luas dan digunakan dalam berbagai peribahasa. Peribahasa-peribahasa ini mengandung ajaran dan nilai-nilai luhur yang diwariskan turun-temurun oleh masyarakat Jawa.

Peribahasa tentang Keharmonisan Rumah Tangga

  • “Bojo iku raket kembang, yen dipendem tambah subur.” (Istri adalah seperti bunga yang dirawat, jika dirawat dengan baik akan semakin berkembang.)
  • “Bojo iku sakembar dewek.” (Istri adalah cerminan diri sendiri.)

Peribahasa tentang Peran Istri

  • “Bojo iku tiang negara.” (Istri adalah pilar negara.)
  • “Bojo iku sumber rezeki.” (Istri adalah sumber rezeki.)

Peribahasa tentang Tanggung Jawab Suami

  • “Bojo iku imam kulawarga.” (Suami adalah pemimpin keluarga.)
  • “Bojo iku sakti mandraguna.” (Suami adalah pelindung keluarga.)

Peribahasa tentang Hubungan yang Sehat

  • “Bojo iku loro ati siji.” (Suami istri adalah dua hati yang satu.)
  • “Bojo iku ora mung dipendem, nanging uga dirawat.” (Suami istri tidak hanya dibiarkan, tetapi juga dirawat.)

“Bojo” dalam Seni dan Budaya Jawa

arti bojo dalam bahasa jawa

Dalam kesenian dan kebudayaan Jawa, “bojo” memegang peranan penting dan digambarkan dalam berbagai karya seni dan budaya, termasuk wayang, gamelan, dan sastra.

Wayang

  • Dalam pertunjukan wayang, “bojo” biasanya digambarkan sebagai tokoh perempuan yang lembut, sabar, dan setia.
  • Mereka sering menjadi istri dari tokoh-tokoh utama, seperti Arjuna atau Rama, dan berperan sebagai pendukung atau penasihat bagi suami mereka.

Gamelan

Dalam gamelan, “bojo” mengacu pada salah satu instrumen musik, yaitu alat musik pukul yang terbuat dari logam.

Sastra

Dalam sastra Jawa, “bojo” sering menjadi tema utama dalam karya-karya sastra, seperti tembang dan serat.

  • Mereka digambarkan sebagai sosok yang penuh kasih sayang, pengorbanan, dan pengabdian.
  • Karya sastra seperti “Serat Centhini” dan “Serat Wulangreh” menggambarkan peran penting “bojo” dalam kehidupan masyarakat Jawa.

“Bojo” dalam Masyarakat Jawa Kontemporer

arti bojo dalam bahasa jawa

Konsep “bojo” dalam masyarakat Jawa telah mengalami perubahan dan perkembangan yang signifikan seiring berjalannya waktu. Peran dan status “bojo” telah berevolusi, mencerminkan perubahan nilai-nilai sosial dan ekonomi.

Peran dan Status “Bojo” dalam Masyarakat Jawa Kontemporer

  • Peran Ekonomi: “Bojo” semakin terlibat dalam kegiatan ekonomi, baik di sektor formal maupun informal. Mereka berperan penting dalam menopang perekonomian keluarga dan masyarakat.
  • Peran Domestik: Sementara peran domestik “bojo” masih signifikan, namun telah terjadi pergeseran menuju pembagian tanggung jawab yang lebih setara dalam rumah tangga.
  • Peran Sosial: “Bojo” memainkan peran aktif dalam berbagai kegiatan sosial, seperti organisasi masyarakat dan kegiatan keagamaan. Mereka juga menjadi pemimpin dalam komunitas.
  • Status Hukum: Hak dan kewajiban “bojo” telah diakui secara hukum, seperti dalam hal kepemilikan properti dan hak asuh anak.
  • Kesetaraan Gender: Konsep “bojo” semakin menekankan kesetaraan gender, dengan pengakuan akan kontribusi dan peran penting perempuan dalam masyarakat.

Dampak Perubahan pada Peran dan Status “Bojo”

Perubahan peran dan status “bojo” telah membawa dampak yang signifikan bagi masyarakat Jawa kontemporer:

  • Meningkatnya Otonomi Perempuan: “Bojo” memiliki lebih banyak otonomi dalam membuat keputusan tentang kehidupan mereka, termasuk pilihan karier dan pendidikan.
  • Pergeseran Peran Gender: Peran gender tradisional telah menjadi lebih cair, dengan “bojo” dan “lanang” berbagi tanggung jawab dan kewajiban.
  • Peningkatan Mobilitas Sosial: Keterlibatan “bojo” dalam kegiatan ekonomi dan sosial telah meningkatkan mobilitas sosial mereka.
  • Penguatan Keluarga: Peran dan status “bojo” yang berubah telah berkontribusi pada penguatan keluarga, dengan menekankan kesetaraan dan saling mendukung.

Penutupan

Seiring perkembangan zaman, konsep “bojo” dalam masyarakat Jawa terus berevolusi, namun esensinya tetap bertahan. “Bojo” tetap menjadi simbol ikatan yang tak terpisahkan, fondasi keluarga yang harmonis, dan sumber kekuatan dalam menghadapi tantangan kehidupan.

Pertanyaan Umum yang Sering Muncul

Apa perbedaan antara “bojo lanang” dan “bojo wadon”?

Dalam budaya Jawa, “bojo lanang” merujuk pada suami, sedangkan “bojo wadon” merujuk pada istri.

Apakah “bojo” hanya merujuk pada pasangan yang sudah menikah?

Tidak, dalam konteks tertentu, “bojo” juga dapat merujuk pada pasangan yang belum menikah namun telah menjalin hubungan yang serius.

Mengapa “bojo” dianggap sakral dalam budaya Jawa?

Karena “bojo” melambangkan persatuan dua individu yang membentuk keluarga, yang merupakan unit dasar masyarakat Jawa.

blank

Made Santika

Berbagi banyak hal terkait teknologi termasuk Internet, App & Website.

Leave a Comment

Artikel Terkait